Dino Patti Djalal dan Seni Berbahasa Negara

Dino Patti Djalal dan Seni Berbahasa Negara

Catatan Pribadi tentang Aceh, Kepemimpinan, dan Kata-Kata yang Pernah Menenangkan

Berbicara tentang Aceh, ingatan saya tiba-tiba melompat pada satu nama: Dino Patti Djalal. Bukan karena ia berasal dari Aceh, bukan pula karena ia politisi lokal. Tetapi karena dari sekian banyak figur di sekitar kekuasaan negara, Dino adalah salah satu yang mengajarkan kepada publik bahwa kata-kata negara memiliki dampak yang panjang.

Beberapa tahun lalu, saya sempat membaca buku Dino tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Isinya bukan pujian kosong, apalagi glorifikasi. Justru sebaliknya, buku itu membantu saya memahami cara berpikir seorang pemimpin negara: mengapa ia memilih diam, mengapa ia terlihat lamban, dan mengapa ia sering berhitung sebelum berbicara.

Dari sana saya mulai mengerti, bahwa dalam politik dan pemerintahan, persoalan terbesar bukan selalu soal tindakan, melainkan soal bahasa. Dan pelajaran itu terasa kembali relevan ketika kita bicara tentang Aceh hari ini.

Aceh bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang sejarah, luka kolektif, dan memori panjang bangsa ini. Ia pernah menjadi daerah konflik, pernah menjadi pusat duka dunia saat tsunami, dan juga pernah menjadi contoh bahwa perdamaian bisa dicapai tanpa kehilangan martabat.

Semua itu tidak lahir dari kekuatan senjata semata, tetapi dari kemampuan negara dalam memilih kata-kata.

Pasca tsunami 2004, Aceh berada di bawah sorotan internasional. Dunia datang dengan niat membantu, membawa simpati, sekaligus rasa ingin tahu. Dalam situasi seperti itu, negara tidak hanya diuji secara logistik, tetapi juga diuji secara diplomasi dan komunikasi.

Bagaimana membuka diri kepada dunia tanpa kehilangan kedaulatan? Bagaimana menerima bantuan tanpa membiarkan konflik dilabeli sebagai isu internasional?

Dino Patti Djalal berada di barisan pemikir yang memahami kompleksitas ini. Ia mungkin tidak berdiri di garis depan perundingan Helsinki, tetapi ia ikut merawat narasi besar: bahwa Aceh adalah tragedi kemanusiaan, bukan panggung politik global. Bahwa perdamaian adalah kehendak bangsa Indonesia sendiri.

Yang menarik, Dino hampir selalu tampil dengan bahasa yang tenang. Tidak emosional, tidak menyulut, tidak menyindir. Bahasa yang ia gunakan terasa dingin secara kalkulasi, tetapi hangat secara empati.

Inilah yang hari ini terasa semakin langka.

Dalam situasi bencana atau krisis, masyarakat Aceh seperti juga masyarakat di daerah lain tidak selalu menuntut solusi instan. Yang sering mereka butuhkan lebih dulu adalah pengakuan atas penderitaan. Kalimat sederhana dari pejabat negara, jika diucapkan dengan tepat, bisa menjadi penguat. Sebaliknya, satu kalimat ceroboh bisa berubah menjadi bara di media sosial.

Saya melihat, belakangan ini, komunikasi sebagian pejabat justru sering menambah kebisingan. Pernyataan yang terlalu cepat, defensif, atau terasa meremehkan, membuat luka sosial semakin terbuka. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukan adu argumen, melainkan rasa didengar.

Dino memahami satu hal penting: bahwa negara berbicara bukan hanya untuk menjelaskan kebijakan, tetapi untuk menjaga emosi publik tetap stabil.

Dalam tulisan-tulisannya tentang SBY, Dino menggambarkan seorang presiden yang sering dicap lamban. Namun di balik itu ada kesadaran bahwa setiap kata kepala negara adalah isyarat. Setiap jeda adalah pesan. Tidak semua hal harus dijawab cepat, karena tidak semua kecepatan adalah kebijaksanaan.

Jika dibandingkan dengan kondisi hari ini, perbedaannya terasa jelas. Media sosial mendorong pejabat untuk tampil cepat dan responsif, tetapi sering kali mengorbankan ketepatan dan empati. Negara seolah ikut terseret dalam logika viral.

Padahal Aceh dan wilayah yang sedang terluka tidak membutuhkan pejabat yang paling lantang. Mereka membutuhkan negara yang paling mampu memahami perasaan warganya.

Tentu, Dino Patti Djalal bukan sosok tanpa kritik. Ia kerap dianggap elitis dan terlalu internasional. Namun justru dalam isu kemanusiaan, perdamaian, dan krisis sosial, pendekatan seperti inilah yang membuat Indonesia pernah tampil sebagai negara yang dewasa dan disegani.

Aceh adalah bukti bahwa negara bisa hadir tanpa meninggikan suara. Bahwa ketenangan bisa dijaga bukan dengan bantahan, melainkan dengan kalimat yang dipilih secara bijaksana.

Mengingat Dino Patti Djalal hari ini bukan berarti meromantisasi masa lalu. Ini adalah ajakan untuk belajar kembali, bahwa bahasa negara adalah bagian dari kepemimpinan, bukan sekadar pelengkap kebijakan.

Dan mungkin, di tengah riuh politik dan kebisingan media sosial, kita perlu kembali pada satu pelajaran sederhana: bahwa dalam krisis, kata-kata yang menenangkan jauh lebih berharga daripada kata-kata yang memenangkan perdebatan.

Comments